Aku bertanya padamu sekali lagi :
“mengapa tak kau akui saja rasa itu, rasa yang sudah mengacaukan seluruh sel di tubuhmu, mengacaukan pikiranmu, sekaligus membuat dirimu menjadi lebih baik. Lau apakah yang akan kamu lakukan sekarang? menunggunya? hanya menunggu? sampai sang waktu membuktikan bahwa engkau menginginkannya, sedangkan dia tidak. Dia masih asik dengan dirinya sendiri. asik dengan kehidupannya yang semakin hari semakin rumit.
kau :
“ya, aku tau, aku pun sebenarmnya merasakan kegelisahannya. Hatiku bilang aku tak boleh meninggalkannya begitu saja. Hatiku bilang aku harus merawatnya, ini hanya masalah waktu. Walau aku tak tau yang sebenarnya. dia pun mungkin merasakan cinta tersembunyi dan tak disadari sepertiku. mungkin kita saling membutuhkan namun kita saling tidak mengakui.
aku :
” Sampai kapan kau begini? menangis tiap malam. Menanti jawaban yang tak kunjung ada. Apakah kau tak berfikir untuk meminta pertolongan orang ketiga. Mungkin bisa cair. “
kau :
“ah biarkan semua ini ada, biarkan semua tak tersadari, biarkan dia tidak tau, sampai suatu saat sang Maha Hidup menghendakinya menyatukan kita melalui ikatan suci dan selamanya. “
aku :
“lalu? kau akan diam saja? sampai kapan? sampai semua terlambat? dan waktumu telah habis?”
dia :
“aku tak tau, aku tak bisa melihat apa-apa sekarang.hanya Allah yang dapat menolongku.”
aku :
“sebaiknya kau ungkapkan saja padanya, karena kulihat dia juga membutuhkanmu, dia bahkan telah kehilanganmu beberapa hari ini, namun sepertimu juga, dia tak menyadarinya.”
dia :
“ya aku tau, aku hanya mengikuti kata hatiku
, yang jelas hatiku bilang, he is the right person to me, to accompany me spend my life. I hope that i know it as son as possible. yang jelas aku tak mau pacaran, aku mau langsung menikah, aku mau menikmati segalanya setelah menikah. dan semua rasa itu bukan cinta, bukan sayang, hanya kekaguman yang berujung harapan.”
Aku :
“what? km gak sadar? itu cinta nona. ada cinta diantara kalian. cinta yang terpendam dan diam-diam. kalian tak saling mengerti, tak saling merasa, dan tak ingin saling berbagi. aku yakin itu kalian rasakan tepat di saat pertama kali kalian jumpa “
kau :
“aku gak merasakannya.”
aku :
“cinta itu begitu besarnya sampai dirimu tak bisa menggambarkannya, tak bisa melukiskan apapun, kau hanya rasakan keindahan, kebahagiaan, dan kedamaian di dekatnya. Begitupun dia. Dia merasakan kehadiranmu mewarnai hari-harinya. dia juga sedang menunggumu di ujung jalan itu.”
kau :
“jadi apa yang harus kulakukan sekarang?”
aku :
” berjalanlah ke arahnya, dia sedang kebingungan mencarimu. dia ada di ujung jalan itu. jemput cinta itu, dan biarkan cinta itu ada. peliharalah, jangan kau berdiam diri di situ, sesuatu yang kau ingin, harus kau usahakan. “
kau :
“tapi aku…. tak yakin, aku takut kecewa.”
aku :
“justru itu karena kamu takut kecewa, itu pula yang menggambarkan betapa besarnya cintamu. “
kau :
” baiklah, nanti malam pun aku akan tahajud lagi, supaya hatiku makin tenang
, thanks to this night, akan kukabari kau selanjutnya, mudah-mudahan berita pernikahan ya. semoga jalinan suci itu terwujud. Biarlah Allah yang akan mengurusnya supaya lebih mudah. malam ini pun aku bisa tidur nyenyak
.”
Malam ini kurasakan kedamaian menyelimuti diriku dan dirimu. Semoga besok perjalananmu menyenangkan, selamat sampai di tempat ya, sampai kembali ke rumah keduamu

1 response so far ↓
ahsinmuslim // November 28, 2008 pada 2:30 am |
Amin,
dan sungguh pacaran setelah menikah itu jauh lebih indah, nikmat, manis dan penuh berkah, demikian kata Ust. Burhan Shodiq.
semoga diberikan kemudahan tuk melangkah, dalam menyempurnakan setengah dari dien ini.
semangat!!!!^_^