Berawal dari kekesalan dan kekecewaan saya di sebuah komunitas yang saya jalani 2008 lalu, secara diam-diam saya keluar menyelinap dari komunitas itu. Nasihat seorang teman nampaknya cukup manjur, “kamu gak usah bilang kalau mau keluar atau non aktif. Pasif aja dalam semua even, pasti lama2 kamu dianggap keluar, kalo diumuam malah jadi rame, ga seru kan?” katanya setahun lalu.
Atas beberapa peertimbangan saya akhirnya keluar dari komunitas yang sudah memberi saya banyak pelajaran termasuk bertemu jodohsaya ^_^. Visi misi kita sudah tak lagi sama. Beberapa pendatang baru menjadi arah perubahan komunitas itu. Dulu sebelum banyak pendatang, komunitas ini begitu solid, kekeluargaan, dewasa, terkendali, dan saling menyupport. Lalu segerombolan orang dengan ambisi besar untuk menjadikan komunitas sebagai “mesin ATM” dating mengobrak-abrik keadaan, ada pula yang ingin menjadikan komunitas sebagai unjuk ego pribadinya. Sedangkan orang yang bersangkutan jarang hadir dalam pertemuan, beliau menyuntik “ide-ide segar” melalui beberapa orang pilihannya diluar pertemuan. Ah, saya tak lagi bisa mewarnai komunitas itu. Saya juga bukan orang yang suka berebut pengaruh untuk mempengaruhi orang lain. Ini komunitas bukan organisasi. Komunitas berjalan karena kesamaan tujuan, kesamaan minat, kesamaan cara pandang, bukan tempat atasan member pekerjaan pada bawahannya. Kecewa saya. Apalagi sahabat-sahabat tedekat saya sudah tidak ada lagi di sana. Semakin membuat saya “gerah” saja. Meski begitu kami secara personal masih berkomunikasi melalui jejaring maya.
Nah, ini dia masalahnya. Saya ini orang yang terus menerus memiliki ide untuk berbagi. Dulu saya berharap bisa melampiaskan di komunitas. Apa daya tangan tak sampai. Ide ini sudah lama ada di kepala saya. Sejak tahun 2006 lalu saya menuliskan ide ini di buku harian saya. Namun karena tidak ada partner yang bisa diajak diskusi akhirnya ide itu hanya menjadi sekedar ide.
Beberapa hari yang lalu saya menghabiskan hari minggu di rumah kakak saya, kebetulan semua sedang tak ada aktivitas. Kami di sana selama 12 jam. Membicarakan sesuatu tentang konsep dakwah sebenarnya. Dan di situlah pikiran kami bertemu. Kita saling menangkap ide-ide yang berloncatan di kepala, lalu terciptalah visi membuat komunitas untuk anak-anak remaja di lingkungan kami. Hal ini diawali dari keprihatinan kami terhadap kondisi lingkungan yang semakin hari semakin buruk. Anak-anak remaja dibiarkan tumbuh sendiri, anak-anak kecil dibiarkan bermain tanpa batas, tanpa norma-norma. Sebagian anak SD dan SMP ketagihan facebook dan gameonline. Rencana awal, kami akan membuka sebuah taman bacaan. Taman bacaan ini nantinya akan berkembang menjadi komunitas bersama yang memberdayakan anak-anak, remaja, dan dewasa. Kebetulan saya dan suami berperan sebgai penjaga komunitas anak-anak dan remaja. Sedangkan kakak ipar saya berperan sebagai mediator komunitas dewasa dengan tema khusus fotografi. Kakak saya sebagai pencari dana. Misi kita adalah menciptakan suasana komunitas berdasarkan sebagian kurikulum sekolah alam. Karena keterbatasan dana, sarana, dan prasarana maka kami memutuskan dari sesuatu sederhana yang ada. Beberapa kegiatan sudah kami siapkan seperti origami, dongeng, mendengarkan cerita bintang tamu, camping, nonton film, mengenal profesi, memasak. Di samping itu menyediakn tempat baca dan bermain anak.Komunitas ini independen artinya tidak mendompleng dan tidak didomplengi pihak manapun. Komitemen kami adalah emmbangun swadaya komunitas. Kami juga sepakat tidak menjadikan komunitas ini sebagai yayasan komersil. Kami belajar banyak dari yayasan dan LSM-LSM yang ada. Kami berusah dari nol, dari hasil keringat kami sendiri. Kami menggunakan yang kami punya, semuanya serba sendiri.Sebisa mungkin kami menghindari “Meminta sumbangan” dari orang lain. Kami sepakat untuk tidak memasukkan proposal ke sponsor. Menurut kami, itu sama dengan meminta-minta.
Akhirnya kami mengangkat ini sebagai bagian dari dakwah kami. Dakwah yang semoga saja menjadi dakwah murni, semoga kami bisa menjaga kemurnian hati kami. Kedepannya jika ada pihak yang berminat menyumbang akan kami terima, itu semata-mata untuk menghormati orang yang berniat baik, intinya bukan kami yang meminta. Semoga rencana kami berjalan lancar. Amin. Allahu ‘Alam bishawab.